** Perlu dibaca Macam-macam manfaat Softdrink!_* *
***Aisyah***
Suatu ketika, seorang laki-laki musafir singgah di sebuah kota. Sambil menunggu jadwal pesawat yang masih beberapa jam lagi, ia bermaksud mengunjungi sebuah Masjid besar di pinggir kota. Sesuai dengan kebiasaannya mengunjungi Masjid, dimanapun ia berlabuh, maka kali ini Masjid pinggir kota yang besar itu menjadi target wisata ruhani baginya. Namun, pelayan hotel mewanti-wanti, agar mengurungkan niatnya, mengingat tempat tersebut terhitung relatif 'remote', tanpa kendaraan umum.
Taksi yang menjadi alat transportasi utama kota tersebut jarang sekali terdapat di sekitar Masjid. Sebetulnya ada cara yang aman, mengingat Masjid itu adalah tujuan wisata, bagi umum, lintas agama, dengan cara ikut tour yang disediakan travel setempat. Tapi ikut travel pun bukan pilihan baginya, mengingat lelaki itu harus ke bandara dalam 2 jam untuk *check-in* dan terbang. Tour yang ditawarkan travel hanya tersedia per-hari, dengan mengunjungi berbagai lokasi wisata, bukan cuma per-jam dan bukan hanya mengunjungi Masjid yang dimaksud.
Meski dihalangi pelayan hotel, musafir tersebut sudah bertekad bulat, untuk ber-wisata ke Masjid pinggir kota. Perjalanan menuju Masjid bukan masalah, mengingat banyak taksi berseliweran di dekat hotel.
Setelah sholat dan menikmati keindahan Masjid tujuan wisata ini, musafir tersebut pun keluar Masjid. Mulai mencari taksi, agar bisa pulang ke hotel untuk kemudian ke bandara. Ternyata betul, *warning* dari pelayan hotel. Sejauh mata memandang, tidak ada taksi. Untuk menelpon taksi di kota, pun tidak mungkin, karena telpon genggamnya tidak memberikan sinyal. Tiada jaringan komunikasi.
Sambil berjalan menuju *highway* terdekat, diamati gurun pasir di sekelilingnya, Ini betul-betul gurun pasir. Asli. Mungkin nanti peradaban kota metropolitan yang hanya 30 menit dari tempat itu akan hadir pula di dekat Masjid itu, tapi setidaknya belum saat ini. Pohon-pohon yang ditanam di sekitar Masjid masih belia, belum mampu menghijaukan padang pasir, sebagaimana hijaunya kota di mana ia menginap tadi malam.
Lama menunggu, sambil memainkan butiran pasir, di tengah teriknya matahari pantai Teluk Persia, lelaki itu terus menunggu taksi. Tapi memang tidak ada taksi yang singgah di tempat ini. Taksi sudah cukup sibuk di tengah kota yang sibuk itu, tapi jangan berharap menemukan taksi di pinggir kota.
Lantas bagaimana musafir tersebut kembali ke hotel?
Bagaimana nanti kalau terlambat *check-in* dan ketinggalan pesawat?
Sambil menunggu taksi, memandangi butiran padang pasir yang mengotori sol sepatunya, musafir itu mencoba memperbaiki hubungannya dengan Sang Pencipta. Memohon solusi bagi persolan hidupnya saat ini. Si musafir berdzikir dalam hati. Terus menyebut asma Allah subhanahu wa ta'ala, Tuhan yang menciptakannya. Tuhan yang menguasai padang pasir, bumi, planet, galaksi dan tata surya tempat ia terdampar. Ia mohon ampun, merngulang-ulang hafalan qur'an nya yang tidak seberapa. Ah...ini rupanya padang pasir. Tanpa sinyal HP, tanpa taksi, ia mencoba berdamai sepi, berdamai dengan teriknya matahari.
Tidak disangka, beberapa saat kemudian, sebuah sedan Lexus, seri terbaru, datang dari arah jalan besar disamping dan menghampirinya. Pengendara mobil mewah itu, bertanya pada musafir:
"Hi, ke mana arah jalan ke kota?"
"Saya tidak tahu. Saya juga musafir dan sedang menunggu taksi", jawab lelaki musafir.
Dahi pengendara Lexus berkerut. "Tidak ada taksi di sini. Kalau mau ke kota, mari masuk ke mobil, ikut saya. Tapi tentu, saya harus putar-putar dulu, karena navigasi saya tidak mengenal jalan ini"
Ikut ke kota? Dengan pengendara asing ini? Wah, berkecamuk pikiran si musafir.
Bagaimana kalau pengendara ini penipu? Bagaimana kalau nanti ia menjadi korban kriminal?
Setelah menimbang-nimbang. Musafir mengangguk. "OK, saya ikut mobilmu ke kota".
*Bismillah* saja, kata musafir dalam hati, toh jika memang tidak ada taksi, ia akan terjebak di padang pasir itu entah sampai kapan. Mungkin sampai esok pagi. Tidak bisa kembali ke hotel di kota dan...ketinggalan pesawat.
Singkat cerita, pengendara itu memang bukan penipu dan orang baik hati yang bersedia mengantarkannya ke kota.
Alhamdulillah. Musafir melangitkan syukurnya pada Allah subhanahu wa ta'ala, Tuhan yeng menciptakannya, Tuhan yang menguasai bumi, menguasai langit dan berkuaasa atas semua makhluk-Nya, termasuk yang menggerakkan pengendara tadi untuk sesaat tersesat dan menemukan dirinya yang mulai mandi keringat di tengah padang pasir.
****
Orang banyak sering menamakan hal yang dialami musafir tadi sebagai 'keajaiban hidup'.
Walaupun, saya lebih menyukai frasa yang lain untuk menceritakan hal unik sejenis, yakni 'pertolongan Allah' atau rizki.
****
*Barangsiapa yang ber-taqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. [Ath-Tholaaq (65) : 2-3].*
*Eindhoven 27-okt-2008*
http://www.eramuslim.com/oase-iman/keajaiban-hidup.htm
Saya masih ingat. Saat itu awal semester ganjil, pertengahan 1991.
“Jangan,” kata Pak Zainal Alim singkat. Tegas. “Koen kate cuti gak kuliah hanya gara-gara gak bisa bayar SPP?” Ruangan itu seperti senyap. Hanya suara putaran kipas angin tua di langit-langit yang terdengar jelas. “Jangan, Dik.”
Saya terus menekuri lantai sembari memilin kedua tangan yang basah. Ruangan itu mendadak serasa sempit dan membuat saya gerah. “Tetapi kelihatannya saya tidak punya pilihan lain, Pak,” jawabku memastikan. “Saya mungkin akan nyari kerja dulu, agar nanti bisa melanjutkan kuliah.”
Dosen wali itu menggeleng. Rambut kepalanya yang sudah memutih dipenuhi uban membuatnya tampak lebih tua dari usianya. Asap kemudian mengepul dari rokok yang disulutnya. Ia kemudian tersenyum. “Eman-eman kuliahmu, Dik. Coba usahakan dulu cari pinjaman atau apa. Apa Ayahmu sudah tak bisa membiayai?”
Kini beliau menyedot rokok itu dalam-dalam.
Saya kini ganti tersenyum. Sebenarnya malu mau cerita. “Saya sejak semester dua mencari uang sendiri di Surabaya ini, Pak, untuk kuliah dan biaya hidup sehari-hari. Saya minta Ayah saya untuk tidak lagi mengirim wesel,” kata saya pada akhirnya. “Kedelapan adik saya lebih membutuhkannya. Biarlah saya cari sendiri.”
“O, begitu ya?” kata Pak Zainal manggut-manggut. Dari mulutnya mengepul asap rokok yang disedotnya bergumpal-gumpal. “Tapi, eman-eman lho, Dik, nek koen cuti kuliah. Apalagi baru mau semester tiga. Pira IP-mu?”
Lembar transkrip itu pun saya angsurkan ke beliau.
“Lha ini nilaimu cukup bagus. Wis, eman-eman nek cuti. Cobalah cari alternatif biaya SPP itu. Aku yakin koen isok oleh.”
***
Lunglai saya meninggalkan ruang dosen wali itu. Kemana harus mencari dana untuk membayar SPP? Padahal, besok hari terakhir SPP itu harus sudah lunas.
Setelah shalat ashar di Masjid Manarul Ilmi ITS, saya duduk-duduk di selasar bagian selatan dari masjid kampus itu. Tempatnya memang teduh dengan angin yang mengalir dari sawah-sawah sekitarnya membuatnya menjadi tempat duduk-duduk yang nyaman bagi siapa saja.
Saya menerawang jauh ke selatan, ke arah Asrama Mahasiswa ITS; tempat dimana saya sebulan yang lalu diminta pergi karena menunggak pembayaran biaya asrama hingga lebih dari tiga bulan. Saudara tak punya. Mau pinjam teman, saya malu mengatakannya.
Tiba-tiba seseorang mencolek pundak saya. Saya pun menoleh.
“Kelihatannya kamu sedang punya masalah?” tanya pencolek pundak saya. Ia seorang laki-laki, mungkin umurnya beberapa tahun di atas saya. Senyumnya tersungging. Khas. Saya melihat persahabatan pada senyumnya itu.
Saya hanya tersenyum. Menggeleng.
“Aku pernah mengalami berbagai masalah. Bahkan diantaranya sangat berat,” katanya menceritakan dirinya sendiri. Lalu ia melanjutkan, seperti menganalisa, “Aku tahu dari mimik dan bahasa tubuhmu kalau kamu sedang punya masalah.”
Saya lalu menunduk, tak tahu antara malu menceritakan dan kebingungan mencari jalan keluar.
“Boleh aku tahu masalahmu apa? Siapa tahu aku bisa bantu.”
Saya sekali lagi menoleh pada laki-laki tak kukenal itu. Dari kata-katanya kelihatannya ia bertanya dengan tulus. “Saya belum membayar SPP,” kataku pelan. Kalimat itu seperti tercekat di tenggorokan dan begitu berat diucapkan. “Besok terakhir. Saya sudah minta cuti ke Pak Zainal Alim, tetapi beliau tidak mengijinkan.”
“Pak Zainal Alim? Kamu jurusan Elektro ya? Atau Komputer?”
“Komputer, Mas. Angkatan 90.”
“Oh, aku juga Komputer! Tapi angkatan tuwek, 87. Aku cuti beberapa kali. Baru sekarang ini mau melanjutkan lagi. Mungkin kuliahnya nanti bareng ambek angkatanmu.”
Ia kemudian menyebut nama dan mengulurkan tangan. Kujabat tangan itu dengan hangat. “Nama saya Bahtiar,” kata saya memperkenalkan diri pada Mas P itu.
“Berapa SPP-mu, Bah? Mungkin aku bisa bantu.”
“Seratus delapan puluh ribu rupiah, Mas.”
Ia pun merogoh saku celananya. “Saya tidak punya banyak. Tetapi, ini bisa kamu pakai dulu untuk membayar SPP-mu besok.” Uang sejumlah itu segera diangsurkannya pada saya.
Mata saya berbinar. Tak kusangka sama sekali sore ini saya mendapatkan uang itu tanpa saya cari. Dari seseorang yang sebelumnya tak pernah saya kenal sama sekali.
“Aku jadi merepotkan Mas,” kata saya sambil menerima uang itu. “Kapan harus saya kembalikan?”
Laki-laki yang ternyata kakak angkatan saya itu tersenyum. “Ah, jangan kamu pikir. Terserah, kapan kamu punya, Bah.”
Jawaban itu begitu menyejukkan saya. Bagaimana tidak? Pada kondisi kritis begini ada seseorang yang membantu saya dengan begitu mudahnya. Tanpa jaminan. Tanpa banyak tanya.
Alhamdulillah, saya bisa melanjutkan kuliah semester tiga itu setelah keesokan harinya melunasi SPP.
***
Kabar yang saya terima ini mestinya membuat saya gembira. Ya, saya memang bergembira dan bersyukur. Nina, adik saya, diterima di sekolah akademi kebidanan di Klaten Jawa Tengah. Tetapi untuk biaya masuk berikut tetek-bengeknya diperlukan uang 3,5 juta!
Ayah sedang tak punya. Saya apalagi, meski kini sudah bekerja di sebuah perusahaan IT sebagai programer. Tetapi gaji programer di tahun 1995-an hanya seperlima dari uang yang diperlukan itu.
Namun sayang jika kesempatan itu dilepas begitu saja. Apalagi Nina memang bercita-cita menjadi bidan selepas sekolah keperawatan. Saya harus mencari cara. Bagaimanapun dia masuk ke akademi itu adalah karena dorongan saya juga.
Terpaksa saya memberanikan diri meminjam uang ke kantor. Potong gaji. Tetapi entah mengapa, jawaban yang saya terima dari bagian keuangan tak begitu enak di telinga. “Tak ada,” katanya singkat. Maksudnya, kantor lagi tidak ada dana cukup untuk dipinjam.
Saya nelangsa. Kemana saya harus cari? Beberapa teman di kantor juga sedang tak bisa dipinjami uang sebanyak itu. Saya akhirnya ingat seseorang. Mas P. Ia kini punya perusahaan IT sendiri yang baru dirintis.
Malam itu saya dolan ke kantornya. Senyumnya masih sama beberapa tahun yang lalu. Khas. Kami saling bertanya dan bercerita. Sampai tibalah saat yang sulit itu.
“Ada apa, Bah? Ada yang bisa aku bantu?”
Saya beringsut di tempat duduk yang tak panas. “Begini, Mas. Saya mau ngrepoti Mas lagi,” begitu kata saya membuka pembicaraan. “Adik saya baru diterima di sekolah bidan. Di Klaten. Ia perlu dana 3,5 juta. Saya bisa pinjam nggak ya?”
Untunglah pinjaman SPP yang dulu sudah lama saya kembalikan setelah saya bekerja. Kalau tidak, saya tidak tahu bagaimana ngomongnya.
“Apa nggak bisa pinjam di kantormu, Bah?”
Saya menggeleng. “Sedang tak ada uang, Mas, katanya. Maksud saya sih potong gaji di kantor gitu. Lebih gampang.”
Mas P nampak berpikir. Lalu ia menjawab, “Aku ada sih, Bah. Tapi duitnya nggak utuh. Gimana?”
“Nggak apa-apa, Mas,” jawab saya lega. Asal jumlahnya genap, duit receh juga tak masalah.
Ia lalu merogoh sakunya dan mengeluarkan sejumlah uang. Lalu dompetnya, dan dikeluarkannya sejumlah uang. Ia lalu menghitungnya dan mengangsurkannya pada saya. “Sik, masih kurang,” katanya.
Saya menghitungnya. Ya, memang kurang beberapa ratus ribu.
Ia lalu membuka laci di meja kerjanya. Dari sana ia keluarkan uang kertas berbagai pecahan. Seratus ribu, lima puluh ribu, sepuluh ribu, lima ribu, bahkan seribuan rupiah. Akhirnya genaplah 3,5 juta yang saya perlukan.
“Sorry, uangnya pecahan begitu,” katanya sambil tersenyum.
“Nggak apa-apa, Mas. Jumlahnya toh 3,5 juta,” jawab saya lantas tersenyum. “Kapan saya harus kembalikan?
Laki-laki di depan saya itu menjawab, sebagaimana jawaban beberapa tahun lalu. “Jangan dipikir, Bah. Terserah, kapan kamu punya.”
Dalam perjalanan pulang, saya mengingat peristiwa itu. Betapa laki-laki itu telah menolongku dua kali, tanpa banyak tanya. Seketika. Dan begitu mudahnya. Bahkan yang membuatku haru, ia mungkin telah menguras uang yang ia miliki untuk membantu saya. Terbukti uang yang dipinjamkannya itu ia ambil dari saku, dompet, bahkan lacinya. Bahkan ada yang pecahan seribuan.
Sepanjang perjalanan pulang itu, air mata saya tak henti menetes. Ternyata masih ada orang sebaik ini di semesta raya. Saya tak akan pernah melupakan jasa orang ini, yang dikirimkan-Nya untuk menolong saya saat terjepit. Saya tak akan melupakannya, hingga kapanpun.
***
Bahtiar HS
http://bahtiarhs.net
Keterangan.
PS. Nama ybs disamarkan untuk menjaga privasi dan kemungkinan saya 'dituntut' karena menceritakan pengalaman ini :) InsyaAllah, tak ada maksud lain kecuali semata untuk ibrah bagi kita semua.
http://www.eramuslim.com/oase-iman/pertolongan-tanpa-banyak-tanya.htm
Adzan dzuhur memang masih sekitar lima belas menit lagi menjelang. Sebuah masjid di salah satu kawasan sarat penduduk di pusat ibu kota itu kini perlahan mulai diisi satu persatu jamaah yang tinggal di sekitarnya.
Dari kejauhan seorang bapak tua nampak berjalan dengan langkah tergopoh mendorong sebuah gerobak tua menuju pekarangan masjid. Puluhan bekas minuman gelas mengisi hampir seperempat bak gerobak tersebut. Sesaat kemudian ia memarkir gerobak tuanya di salah satu sudut pekarangan masjid.
Aku masih memperhatikannya ketika ia mengambil sebuah bungkusan dalam kantong hitam yang ia gantung di bagian belakang gerobak tersebut. Kemudian ia membawanya ke arah kamar mandi masjid dan hilang dalam pandangku.
Matahari di hampir penghujung bulan oktober ini alhamdulillah sudah agak semakin akrab denganku di ibu kota ini. Laporan cuaca memang menyebutkan bahwa akhir-akhir ini cuaca kota Jakarta sedang agak bersahabat dengan para penduduknya. Tidak begitu panas seperti biasanya.
Adzan dzuhur kini berkumandang, menggema mengisi relung-relung penjuru dunia. Bapak tua tadi kini terlihat kembali, meskipun terus terang telah membuatku sedikit terperangah kaget dengan penampilannya. Tak ada lagi baju kumal yang ia kenakan beberapa saat yang lalu ketika aku melihatnya. Kini, sebuah baju koko berwarna putih, meskipun sudah agak lusuh, melekat di tubuh tua-nya, lengkap dengan sebuah kain sarung bercorak kotak-kotak berwarna biru.
Hingga sesaat kemudian semua itu berlalu ketika kami memenuhi panggilan suci untuk bersama mengagungkan asma-Nya dan takbir dan shalat kami.
Usai shalat sunnat ba'da Dzuhur, aku kembali memperhatikan bapak tua itu yang kini duduk bersila disudut sana. Ia masih terlihat khusyuk dengan kedua tangannya yang kini menengadah di depan dadanya.
Dalam hati terus terang sungguh aku merasa malu saat itu. Ketika semakin lama semakin aku perhatikan ia. Ia yang dengan kondisi seperti itu ternyata masih bisa mempersiapkan diri lebih baik untuk menghadapkan jiwanya serta mempersembahkan shalat terbaiknya ketika panggilan shalat mulai berkumandang.
"Namun bagaimana dengan kita?"
Aku menundukkan kepalaku ketika teringat semuanya.
Terkadang, bukankah kita yang ternyata padahal lebih banyak kesempatan untuk bisa mempersiapkan diri dan mempersembahkan ibadah terbaik kepada-Nya justru malah seringkali melalaikannya?
Berbagai alasan seringkali kita pergunakan sebagai sanggahan-sanggahan atas tanya hati kecil kita, ketika is bertanya mengapa. Pekerjaan yang tanggung ataukah tidak enak menolak ajakan rekan kerja untuk makan siang bareng, telah menjadi salah satu dari sekian banyak alasan yang ada daripada kita menggunakan waktu untuk bisa melaksanakan sholat kita tepat di awal waktu.
Sungguh, aku rasa ketika Alloh pertemukanku dengan bapak tua tadi telah menjadi sebuah pukulan telak yang tidak hanya membuatku malu, namun semoga juga menjadikanku semakin tersadar atas semua hikmah daripadanya.
Aku memandangi sebuah tulisan arab di dinding masjid sana yang tertulis rapi, dikutip dari penghujung di ayat ke 103 surrat An Nisaa,
"... Innasholaata kaanat 'alal mu'miniina kitaaban maukuutaa"
"... Sesungguhnya shalat itu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman".
Namun, ternyata meskipun tulisan itu terpampang jelas disana, masih saja kita terkadang lupa dibuatnya. Bahkan yang membuat diri ini sedih, ketika dengan yakinnya sebagian orang dari saudara kita menyanggah bahwa shalat tepat waktu itu tidak berarti melaksanakannya di awal waktu.
Padahal, aku kira seandainya alasan-alasan mereka akan semua hal itu, masihkah berlaku ketika kita mencoba menanyakan pada hati kecil kita, "Masihkah kita bisa menjamin akan usia bisa sampai pada saat dimana kita mengakhirkan waktu shalat tersebut?"
Jika memang ternyata bapak tua tadi dengan segala aktifitasnya ternyata masih mampu untuk mempersiapkannya lebih baik dalam beribadah kepada-Nya, masihkah ada rasa malu ketika kita mengingatinya atas diri kita sendiri?
Wallahu'alam bish-shawab.
http://www.eramuslim.com/oase-iman/malukah-kita-jika-ternyata-mereka-bisa.htm
Hari beranjak siang. Seperti biasa aku pergi ke kantor dengan menggunakan motor. Bekasi to Jakart. Suatu hal yang biasa, yang selalu ku lalui sehari - hari.
Macet sehingga kemudian Stress dan capai juga hampir selalu menemani kepergianku menuju tempat mencari nafkah,mulai dari Macet di Kalimalang, Cawang sampai pancoran, terus sampai mampang…Masya Allah..
Untuk mengusir stress karena macet.. biasanya aku bernyanyi dengan lagu - lagu terbaru, dengan lagu - lagu yang aku sukai…
Ah.. lagunya anak - anak band masa sekarang…
Kala itu aku sampai di Mampang, terhenti karena lampu merah.
Seperti biasa aku bersenandung sambil memperhatikan keadaan sekitar, mencari hal - hal yang menarik yang dapat dilihat, Tetapi kemudian… Ah… Mataku tertumbuk pada lampu lalulintas,
kali ini bukan lampu merahnya tapi counter penghitung waktu lampu merah…
detik demi detik kuperhatikan..
mulai dari detik ke 90…
tik..tik..tik…
lama - lama aku tersadar…
Ya Allah…
Seandainya waktu menunggu ini kupergunakan untuk berzikir mengingat engkau…
maka berapa banyak kalimat zikir yang dapat aku lakukan…
aku mulai menghitung dengan matematika sederhana…
lampu merah biasanya 90 detik…
jika setiap 2 detik aku beristighfar misalnya…
maka aku dapat melakukannya sebanyak 45 kali…
kalau aku melakukannya disepanjang perjalananku…
misalnya 45 menit…
Maka Subhanallah… 45 * 60 / 2 = 1350 kali…
Bagaimana jikalau aku melakukannya disetiap hembusan nafasku…
langsung ku teringat…
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna…(Al Mu’minun:1-3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. ” (Al- ‘Ashr :1-3)
Ya Allah…
Ampuni aku yang telah menyia-nyiakan setiap detik waktu darimu…
Ampuni aku yang telah banyak melakukan perbuatan yang sia - sia….
Kemarin, saya menjadi instruktur pada acara leadership basic training PII. Kebetulan saya yang sebagai instruktur lokal saat itu, membawakan materi ekspektasi. Materi ini isinya semacam kontrak belajar. Jadi seluruh peserta diarahkan untuk menyatukan semua harapan-harapan yang ingin dicapai. Setiap mereka mengajukan satu harapan dan cara yang dilakukan untuk terwujud harapan tersebut.
Mulailah mereka menyebutkan satu persatu. Hingga terhimpunlah harapan-harapan sejumlah mereka yang hadir. Tujuh harapan pun kemudian terpampang di hadapan beserta cara yang bisa dilakukan untuk mencapai harapan tersebut.
Setelah tujuh harapan dan cara itu diseleksi, ada tiga harapan yang memiliki muatan maksud dan tujuan yang sama. Lalu tiga harapan itu beserta caranya digabungkan pada harapan lain yang semisal. Jadi tinggal empat harapan beserta cara yang akan ditempuh.
Kemudian saya meminta salah satu di antara mereka membuat kesimpulan. Dari ke empat harapan dan caranya tersebut, kira-kira target utama apa yang hendak mereka peroleh dalam masa lima hari ke depan. Lalu disimpulkanlah, target utama training tersebut adalah membentuk kepribadian mereka menjadi pribadi yang bukan saja bisa memenej diri melainkan juga bisa memenej orang lain. Dengan kata lain, keluar dari training tersebut mereka menjadi agen perubahan (agent of change).
Sepakatlah mereka untuk menjadi agen perubahan itu. Lalu dibuat beberapa peraturan lokal dan luar lokal guna mendukung suasana belajar. Kemudian lahirlah sepuluh peraturan yang meliputi komitmen keseriusan mengikuti training, etika dan keaktifan.
Ada satu poin dalam peraturan itu yang saya kira sebenarnya itu bukanlah peraturan. Lebih tepatnya saya menilai, itu adalah sebuah paradigma. Mereka mencantumkan kata “we are big family”. Ini adalah sebuah cara pandang mereka untuk menyatukan emosional mereka. Dengan menanamkan perasaan saudara satu sama lain, membuat mereka selalu saling mengingati manakala ada yang tidak mematuhi peraturan. Sebab mereka yakini, keberadaan mereka adalah sebuah tim. Dan tidak akan sempurna misi yang dijalankan oleh satu tim jika salah satu personilnya tidak efektif.
Setengah masa telah berlalu. Training sudah berjalan selama dua hari tiga malam. Namun, saya perhatikan ada kesalahan yang tidak disadari oleh mereka. Sehingga mereka sering melanggar peraturan yang mereka buat sendiri. Dan akhirnya, target yang diharapkan mereka terancam tidak tercapai. Itu artinya kelelehan mereka sepanjang lima hari menerima materi hanya akan berlalu sia-sia.
Dengan sigap, saya yang diamanahkan agar menjaga stabilitas semangat belajar mereka selama training, segera mengevaluasi. Disela-sela pergantian materi, ada satu jam bagi saya untuk evaluasi bersama mereka. Lalu saya kumpulkan kesalahan-kesalahan mereka dengan meminta tiap-tiap mereka mengakui kesalahan yang pernah dibuat. Setelah terkumpul, saya buatkan grafik dan neraca perbandingan antara usaha yang telah dijalankan dan target yang akan dicapai.
Terlihat persentase usaha dan target yang telah mereka peroleh. Ternyata berbanding jauh sebagaimana yang diharapkan. Seringnya melanggar peraturan, membuat mereka lupa terhadap target utama. Dan yang lebih sayangnya lagi, diantara pengakuan kesalahan mereka melanggar peraturan, pada point “we are big family” hanya diakui dua orang saja. Padahal realitanya point itulah yang banyak mereka lupakan. Sehingga paradigma mereka tidak lagi memandang kalau mereka adalah kesatuan tim. Dan dengan mudahnya mereka berpisah keluar lokal, tidak mengikuti materi dan lain sebagainya.
Lalu saya kembalikan lagi mereka untuk berfikir sejenak harapan dan cara-cara apa saja sebelumnya yang pernah mereka buat, serta target utama apa yang ingin mereka capai. Dan sampailah pada kesimpulan akhir bahwa mereka lupa tujuan awal mengikuti training tersebut. Sehingga langkahnya pun tidak beraturan lagi.
Tujuan/ target/orintasi semuanya adalah bentuk-bentuk niat. Untuk setiap kesuksesan seseorang tidak bisa dilepaskan dari yang namanya target. Oleh karenanya orientasi yang ada dibuat hendaknya sejalan dengan target yang ingin dicapai. Selanjutnya diterjemahkan dalam bentuk visi dan misi. Oleh karena itu, kuseksan apapun yang ingin dicapai seseorang, haruslah sesuai dengan niat.
Rasulullah saw bersabda: “sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung dengan niat”
Gami’ station, di pondok kader
madhan_syah@yahoo.com
http://www.eramuslim.com/oase-iman/jangan-sepelekan-niat.htm
posted by :agussyafii
o “Dan hendaklah diantara kamu ada segolongan yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 104)
o “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang ma’ruf, dan menegah dari yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran : 110)
o “Dan (ingatlah) ketika suatu umat berkata, “mengapa kamu menasihati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” mereka menjawab, “Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Rabb-mu, dan suapya mereka bertakwa.” (QS. Al A’raf : 164)
Remaja adalah tulang punggung bangsa, ditangannyalah tongkat estafet kepemimpinan bangsa akan bergulir. Kualitas generasi muda merupakan cerminan masa depan bangsa. Suatu bangsa yang gagal membina moral dan kapabilitas generasi muda, akan menjadi bangsa pecundang di kemudian hari.
Fenomena sekarang menunjukkan betapa rendah moral generasi muda Indonesia. Kasus merebaknya narkoba, tawuran, seks bebas, prnografi, dan pornoaksi, hampir setiap hari menghiasi halaman surat kabar, tabloid dan majalah. Wabah virus demoralisasi semakin deras menerjang generasi muda.
Fenomena tersebut semakin diperburuk oleh rendahnya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat kurang, bila dibandingkan dengan negara-negara lain.
Rusaknya moral generasi muda akan menjadi pangkal hancurnya masa depan bangsa. Oleh karena itu merupakan tanggung jawab kita bersama, untuk menyelamatkan generasi muda Indonesia dari wabah virus demoralisasi.
Sebagai wujud kepedulian pada generasi muda, maka lahirlah KPR (Kelompok Peduli Remaja) MENTARI (Menggapai Taqwa Dengan Ridha Ilahi), pada tanggal 7 Januari 2002. Sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memfokuskan diri terhadap pembinaan generasi muda secara menyeluruh, baik secara fisik maupun mental.

o Menyiapkan remaja Cianjur menjadi generasi yang senantiasa belajar, mengamalkan, dan menyampaikan apa yang dipelajarinya sesuai dengan nilai-nilai Islam.
o Memberikan wawasan ilmu pengetahuan dan konsep berfikir sistematis bagi remaja ianjur sehingga semangat berprestasi mereka akan meningkat.